Songs of My Times

Dear e_diary,

Pagi ini aku kesetrum! Bukan kesetrum cinta ya, hehe—nothing’s such a gombaler here, sigh! Aku kesetrum kabel radio yang dirangkai Ayah dari bekas radiotape mobil dan speaker berukuran jumbo. Awalnya aku hanya berniat menghidupkan radio itu karena memang sudah kebiasaanku untuk melakukan pekerjaan rumah aka berberes rumah sambil mendengarkan radio. Alih-alih radio yang sudah menemaniku sejak aku es-de itu menyala, ia malah memberi kejutan kecil di jempol imutku ini (huekk! 😃). Lucu memang. Aku sempat mental sekitar se-meter dengan membawa serta—menyeret—radio dan adapternya. Jangan ditanya radio-nya rusak atau tidak, jelas iya. Thanks heaven sekarang sudah bisa bekerja lagi berkat tangan dingin Ayahku, hihihi. Jadilah pagi ini aku tidak mendengarkan radio. Pagi tanpa radio yang mendendangkan nada-nada indah itu rasanya seperti tangan tanpa jempol — gak lengkap. For your information, it may be ridiculous but it happens that my morning seems even sweeter with this stuff.

radio_main

Sejak kecil aku sudah akrab dengan benda yang memiliki saluran fm atau mw ini. Channel yang menjadi langgananku sejak kecil adalah Radio Rajawali Fm. Sampai sekarang radio masih saja eksis, aku yang mulai lelah mendengarkannya—mereka lebih banyak mengudarakan iklan dan promo, hehehe. Setahun belakangan aku jatuh cinta pada D Radio Lampung 94.4 fm. Radio yang memiliki jargon “Hits terbaik setiap hari” ini benar-benar diperuntukkan bagi kawula muda seperti aku ini, hehe. Setiap harinya mereka menyajikan lagu-lagu berbahasa Inggris dan Indonesia paling fresh. Aku banyak tau lagu-lagu hits terbaru ya dari sini.

Actually, aku memang sangat suka musik. Ehmm, mungkin lebih tepatnya lagu. Duniaku seakan hilang selera hidup tanpa senandung merdu penyanyi-penyanyi hebat tanah air dan dunia. Menurutku ini wajar. Aku sendiri mewajibkan diriku ini untuk mendengarkan lagu sekurang-kurangnya satu setiap harinya. Tanpa tujuan yang jelas memang, namun aku kerap kali merasa lebih baik (atau menaikkan tingkat mood beberapa derajat) sehabis mendengarkan lagu. Kalian juga merasakan hal yang sama?? Ya. Oh, terimakasih, haha.

Kalian suka genre music apa? Pop? Country? Religi? RnB? Rock? Rap? Swing? Soul? Reggae? Remix? Or Dangdut?—kalau ada yang tidak tersebut namanya, I do apologize 😊. Aku sih suka hampir semua genre lagu. Aku lebih suka memilih dari siapa yang membawakan lagunya. Aku juga lebih tertarik mendengarkan lagu berbahasa Inggris (gaya deh 😃). Bukannya apa-apa, yang aku tahu lagu berbahasa Inggris itu terasa lebih mengena, lebih nyess. Selain itu, aku sedang menerapkan proverb sambil menyelam minum air dan take a selfie, hihihi. Jadi selain dapat menikmati anugerah suara merdu penyanyinya, aku juga bisa sekalian belajar Bahasa Inggris (ingat kan aku ini anak Bahasa Inggris 😊). Aku juga sering mendapati lagu-lagu yang biasa ku dengarkan di radio itu merefleksikan hidupku.

Seperti kebanyakan manusia pada umumnya (walaupun aku yakin bahwa aku ini endemik asli Palembang, yang takkan kalian jumpai lagi di mana pun!), hidupku berkutat pada tiga zona; passion, dream, and love.

Zona pertama; passion. Aku ingin Forever Young. Siapa yang mau awet muda ayo coba klik like-nya? Hahaha. Aku tahu seorang Ordinary Human seperti diriku ini tak punya daya yang cukup untuk tetap muda dengan angan membuncah bak Fireworks. Sekarang memang, I’m telling you I’m fireworks. Aku sering mengibaratkan diriku sendiri sebagai The Climb yang pada saatnya nanti akan berdiri in a Hall of Fame. Dalam perjalanannya aral dan hambatan pastilah ada. Kenyataan seperti itulah yang membuatku mengupayakan strategi jitu ala Adele—Set Fire to The Rain. Sementara itu, untuk saat ini, nikmati saja lika-liku-nya menjadi muda; Live While We’re Young kalo kata One Direction. Berbicara mengenai muda, aku sangat terinspirasi salah satu karya terbaik Frank Sinatra yang berjudul “Young at Heart”. Satu baitnya berbunyi:

“And if you should survive to 105
Look at all you’ll derive out of being alive
Then here is the best part, you have a head start
If you are among the very young at heart”

Zona kedua; dream. Aku bukan seorang yang ambisius. Aku juga tidak menginginkan hal yang muluk-muluk. Aku hanya butuh One Thing but Something Great. Mimpi terbesarku hanyalah dapat terus berkarya dengan Bahasa Inggris. Kadang aku merasa ini berlebihan, seolah aku sangat mengagungkan Bahasa Inggris. Namun, yang aku tahu dari seorang bernama Mutia Retno Maharti ini adalah dia akan totally involved di dunia yang ditekuninya. Aku tidak suka melakukan banyak hal secara bersamaan aka sekaligus jadi. Prinsipku adalah, lebih baik mengisi air sampai penuh atau bahkan sampai tumpah-tumpah ke dalam satu botol air, daripada mengisi air ke dalam lima ember sekaligus tapi hanya terisi setengahnya. Am I wrong? Aku jadi ingat lagi sebuah lagu dari Nico & Vinz:

“Am I wrong for thinking out the box from where I stay?
Am I wrong for saying that I choose another way?
So, am I wrong for thinking that we could be something for real?
Now, am I wrong for trying to reach the things that I can’t see?”

Zona ketiga: love. Aku tidak pandai bercerita soal cinta. Ah, malu rasanya menceritakan hal semacam ini. Aku belum pernah menulis tentang cinta. If you guys ever heard a song Susah Jatuh Cintaby Aurel Hermansyah, it’s just probably meant to me! Kalau dikatakan selektif, tidak juga. Aku sadar tidak ada manusia sempurna pun memiliki semua yang aku inginkan. Aku hanya ingin dia yang impressive. Aku bahkan tidak punya kriteria untuk si ­impressive ini. Kalau aku memandangnya, terus merasakan sesuatu yang beda, that’s impressive. Terhitung baru dua kali aku menemukan si impressive. Yang paling anyar (ciiee!) aku mendapatinya di bangku kuliah. All I could say is he’s just genuinely adorable, smart, nice, and OMG… sigh! Singkatnya, kami saling kenal dan berteman baik. Dia sudah punya pacar (Jlebb!). Ya. He belongs to another one. Kalian kira aku sakit. Tidak juga. Aku tidak mengharapkan apapun dari rasa suka ini (terdengar munafik memang; but it’s serious!). Aku hanya ingin jadi temannya. Dia kerap bercerita tentang banyak hal; tentang studinya, tentang orangtuanya, pun tentang girlfriend-nya itu. Entah dia tahu atau tidak what I really feel inside. But one thing for sure, he wanted me to be his friend—good friend. I just knew it. Hingga pada akhirnya, he just shut me out. Dia menghilang. Tanpa alasan pasti. Aku tidak punya niat sedikit pun untuk mencari tahu alasannya—gengsi 😃. Aku sempat berpikir mungkin karena kekasihnya itu. Dia pernah cerita; pacarnya sempat jealous denganku. Bodoh! Cinta memang begitu kali yaa. Tak ada logika kalo kata Agnez Mo. Hemm, well, saat dia “memutuskan” menjauh, hati ini serta merta menjauh pula. Aku memang tidak akan pernah bisa melupakan “wujud”-nya, tapi aku bisa hapus semua “rasa”-nya. Sejauh ini, I did it, I made it! Hanya satu yang sering terngiang di otakku. Dia pernah berkata: if only I met you first, it’s gonna be so much different. Aku jadi ingat Ariana Grande—ingat lagunya maksudku, Almost is Never Enough.

“Almost. Almost is never enough
we’re so close to being in love
if I would have known that you wanted me
the way I wanted you.
And maybe we wouldn’t be two worlds apart
but right here in each other arms.
And we almost, we almost knew what love was
but almost is never enough”

Membicarakan lagu memang lah tak pernah ada habisnya, karena lagu diciptakan untuk menyampaikan apa yang si empu-nya lagu ingin sampaikan. Lagu-lagu yang aku sebutkan di atas hanya sebagian dari yang bisa ku ceritakan. More or less, ini songs of my life. Kalo kamu?

3 respons untuk ‘Songs of My Times

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s